Senin, 03 Juli 2017

Trip to Thailand : Part 1

Hari Pertama (25 Juni 2017)

Kemarin tanggal 25 Juni 2017, saya dan keluarga terbang ke Bangkok (Thailand) untuk libur lebaran tahun 2017. Kami terbang dengan pesawat Garuda Indonesia, yang tiket pesawatnya udah dibeli sekitar bulan Januari lalu. Harga tiket pulang pergi Jakarta – Bangkok sekitar 5,6 juta, karena hari keberangkatan masuk periode blackout, jadi harga tiketnya agak mahal. Tapi syukurlah kita masih bisa dapat tiket seharga segitu, karena saat di pesawat, teman sebangku kita bilang dia beli tiketnya 10 juta PP untuk tanggal keberangkatan yang sama dengan kami (dia pulangnya kapan kita gak tau).


Pesawat kami GA 864 dijadwalkan terbang dari Bandara Soetta Terminal 3 jam 16.25, namun ada delay selama 1 jam sehingga jam tiba kami di Suvarnabhumi Airport menjadi jam 9 malam. 


Begitu sampai dan melewati imigrasi, beberapa dari kami ada yang membeli paket data untuk internetan di Thailand seharga 300 baht (120 ribu/untuk 7 hari). Kiosk-kiosk layanan internet ini mudah ditemukan di dalam bandara. Setelah membeli paket data, kakak saya menghubungi Uncle Saman (entah ejaannya bener atau tidak) yang akan mempick-up kami semua di bandara. 

Suvarnabhumi Airport BKK

Gak lama kemudian dia datang membawa mobil van yang cukup untuk rombongan kami (10 orang) beserta koper-kopernya. Selama di Thailand, kakak saya menyewa van untuk membawa kami jalan-jalan sepanjang hari. Biaya sewanya sendiri saya kurang tau berapa baht per hari, yang pasti ada overtime dan itu dihitungnya per jam. Mobil van ini langsung membawa kami ke The Berkeley Hotel Pratunam.

The Berkeley Hotel Pratunam ini adalah hotel pertama kami di Thailand. Alasan memilih hotel ini adalah karena lokasinya yang strategis di dekat mall dan banyak pedagang kaki lima yang biasanya berjualan hingga larut malam. 

Dekat dengan Palladium Mall
Check-In, harus nunjukkin semua paspor tamu





Begitu sampai di hotel, kami langsung check-in dan menuju ke kamar kami yang bertipe Family Room. Saya bersama mama, kakak dan adik tidur di satu kamar yang luas, dengan ranjang double bed yang jumlahnya ada 2. Kamar mandinya cukup luas, ada bathtub dan shower yang berfungsi baik. Meskipun hotelnya nampak tua, tapi kesan mewahnya masih ada. 



Dengar-dengar, di hotel ini ada lantai/ruangan yang ada hantunya. Syukurlah selama kami menginap disini, belum pernah menemui hal-hal begituan. Sesuai apa yang pernah diajarkan kepada saya dulu, sebaiknya saat masuk kamar hotel ucapkan permisi, flush kloset, nyalakan semua lampu dan jangan meletakkan sandal/sepatu dalam posisi rapi (biarkan berantakan saja maksudnya). Dilihat dari luar saja, hotel Berkeley ini masuk akal kok kalau dibilang ada penunggunya, karena emang terlihat jadul pisan. Tapi untungnya kami bisa tidur nyaman selama stay disini.

Selesai berberes dan mengecek kondisi kamar hotel, kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke luar. Di luar hotel masih banyak pedagang yang menjajakan dagangannya  padahal sudah larut malam. Adik kakak ipar saya akhirnya membeli sepasang sandal disana. Setelah itu kita jalan ke 7 eleven yang berada sangat dekat dengan hotel. FYI, 7 eleven di Bangkok jumlahnya sangat banyak, mungkin bisa diibaratkan seperti Indomaret/Alfamart di Indonesia.  Disini gak hanya dijual barang-barang kebutuhan sehari-hari saja, tapi juga ada makanan siap saji. Karena lapar, saya beli beberapa makanan seperti es krim Kit Kat (di Indo belum pernah lihat), Sosis Pork, Sandwich Sosis dan Nasi Babi yang dimasak dengan bumbu Thai. Semuanya dipanasin langsung oleh staf  7 eleven di microwave mereka (kecuali es krim) dan diserahkan ke kita lengkap dengan alat makannya juga. Hati-hati untuk yang non muslim karena makanan di sini kebanyakan menggunakan pork (daging babi) dan tulisan di kemasannya masih pakai aksara Thai, jadi susah kalau gak bisa baca. Buat mastiin, sebaiknya tanya ke staf disana ini pork atau chicken.

Semua udah mateng, tinggal masuk mulut saja

Semua makanannya kita bawa pulang ke hotel untuk dimakan bareng-bareng. Untuk rasa, enak-enak tapi yang paling saya suka itu sandwich-nya. Harganya juga terjangkau. Sayang struknya tertulis aksara Thai semua sehingga saya gak bisa baca sama sekali. Yang saya tahu, harga satu botol air minum merk Nestle 1.5 L yaitu 14 baht (sekitar Rp 5.600). Gak beda jauh dengan di Indonesia.

Hari Kedua (26 Juni 2017)

Pagi-pagi setelah bangun tidur, kami bersiap siap untuk sarapan di hotel. Untuk family room, satu kamar mendapatkan 3 kupon breakfast per hari, yang mana kuponnya diberikan pihak hotel saat kita check-in. Satu hal yang saya suka dari hotel ini, meskipun bintangnya hanya 4, tapi dekorasi hotelnya cukup mewah hingga ke dining roomnya. Menu sarapan di hotel ini banyak variasinya dan rasanya juga enak. Makanan yang mengandung babi/pork biasanya dipisahkan di meja tersendiri dan ada keterangan bahasa Inggrisnya. Juicenya lengkap, ada bubur dan makanan prasmanan khas Chinese. Ruang makannya juga bersih. Intinya untuk sarapan, belum ada complain untuk hotel Berkeley.












Breakfast menggila, ada pork meatball dan roti goreng


Di lorong ini saya ketemu artis Femmy Permatasari
Setelah makan pagi, kami dijemput oleh mobil van dan dibawa ke Grand Palace. Ternyata di pagi hari saja jalanan di Bangkok sudah macet, yang mana menurut saya macetnya disebabkan karena banyaknya lampu merah. Grand Palace merupakan salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Thailand. Dulunya tempat ini merupakan tempat tinggal raja, namun sekarang difungsikan untuk tempat upacara kerajaan. Biaya masuknya 500 Baht per orang (200 ribu). Untuk masuk ke dalam, kita akan melewati screening yang berlapis lapis. Intinya saat mau masuk ke dalam, jangan memakai pakaian yang agak terbuka. Beberapa anggota keluarga saya ada yang tertahan saat ingin masuk karena mereka pakai pakaian yang kurang pantas seperti ripped jeans, baju yang bahunya terbuka, sandal hingga rok yang dianggap kependekan. Untung saja mereka udah siapin selendang di tas masing-masing, untuk mengantisipasi hal ini. Akhirnya kami semua berhasil masuk ke dalam.




Di Grand Palace ini, kakak saya, suaminya dan kedua anaknya gak ikut masuk karena mereka sudah pernah kesini. Mereka akhirnya nongkrong di toko eskrim di dekat Grand Palace. Di bagian luar Grand Palace memang banyak toko-toko seperti toko minuman, restaurant, oleh-oleh dan lain sebagainya. Kami berenam akhirnya masuk ke dalam kompleks istana dan foto-foto disana. Untung saja saat itu cuaca sedikit mendung sehingga kami bisa jalan-jalan agak lama di luar, karena biasanya Bangkok terkenal panas sekali. Jumlah turis yang datang ke Grand Palace ini sangat banyak, terutama yang sering saya lihat itu turis China dan Korea. Mau foto-foto aja harus tunggu-tungguan, karena spot yang bagus biasanya banyak orang yang ngantri. Susahnya lagi, biasanya turis China lama kalau ngambil foto (agak egois) dan mereka juga gak terlalu paham bahasa Inggris, sehingga kadang terjadi gesekan disini hehehe.

Tuk Tuk, kendaraan khas kota Bangkok
Untuk orang awam seperti kami, Grand Palace ini ya tempat foto-foto aja. Tapi sebenarnya banyak keterangan di temple/patung, buat yang mau tau sejarahnya bisa baca. Di beberapa tempat kita juga diharuskan melepas alas kaki untuk masuk melihat ke dalam bangunan. Selesai dari Grand Palace, kita keluar dan beli beberapa minuman dan buah-buahan. Kemudian kita diantar supir ke Tha Maharaj, sejenis mall di Bangkok untuk makan siang.

Banyak kedai-kedai beginian di Tha Maharaj



Untuk makan siangnya, kakak saya pilih Savoey Restaurant yang letaknya ada di lantai 2 Tha Maharaj. Makanan yang disediakan disini adalah masakan Thailand. Restaurannya bagus, dekorasinya cukup modern dan pelayanannya juga baik. Disini kami memesan Pineapple Fried Rice, Tom yum, Shrimp Cake, Som Tum dan dsb. Makanannya enak-enak dan porsinya juga lumayan besar. Total kami habis sekitar 2.000an Baht disini.


Selesai makan siang, kami meluncur lagi ke Wat Pho,yang  jaraknya dekat dengan Tha Maharaj. Wat Pho ini dikenal juga dengan Temple of Reclining Buddha dan merupakan top tourist attraction di Bangkok. Tiket masuknya sekitar 100 Baht (40 ribu rupiah) per orang. Lagi-lagi kakak saya dan keluarganya memutuskan untuk tidak masuk dan menunggu di luar kompleks. Di Wat Pho ada tempat sembahyang, jadi buat pemeluk agama Buddha bisa sembahyang juga disini. Di kompleks ini banyak stupa-stupa yang bentuknya cantik-cantik sekali, lagi-lagi cocok buat tempat foto. Main attraction di Wat Pho adalah reclining Buddha atau Buddha yang sedang berbaring. Untuk masuk ke dalamnya, kita harus melepas alas kaki dan disediakan plastic untuk membungkus alas kaki kita dan dibawa sendiri sampai keluar bangunan. Disini untuk mendapat foto yang pas dimana wajah patung Buddha terlihat, kita harus mengantri lagi. Keluar dari bangunan yang ada patung Buddhanya, kita muterin lagi komples Wat Pho yang luas. Oh iya, kita dapat satu botol air mineral gratis yang bisa diambil dengan menukarkan sobekan tiket masuk di counter air mineral.



Wat Pho selesai, tujuan berikutnya adalah Wat Arun. Dari Wat Pho, kami berjalan ke dermaga penyeberangan terdekat untuk naik ferry menyeberangi sungai Chao Phraya dan turun di dekat Wat Arun. Tiket ferrynya seingat saya gak sampai 10 baht per orang. Sesudah turun di dermaga dekat Wat Arun, kita jalan lagi untuk masuk ke kompleks candi. Di kompleks Wat Arun ini ada banyak taman yang cantik-cantik. Kita gak masuk ke dalam Wat Arunnya karena selain sedang dipugar (sepertinya), seharian ini kami sudah cukup banyak melihat temple sehingga gak interested lagi (selain karena factor cuaca yang sudah panas sekali). Tiket masuk ke dalam Wat Arun yaitu 50 Baht per orang (20 ribu rupiah). Meski  hanya memandang dari luar, harus saya akui, temple di Thailand keren-keren sekali, unik dan sangat detail dibuatnya.  Di Wat Arun ini kita juga bisa beli lonceng yang entah ditulis apa, kemudian di gantung di dekat pintu masuk kuil.

Lihat Wat Arunnya lagi dipugar, sebelah kanan bawah. Sayang waktu itu cuaca panasnya bukan main.


Sesudah dari Wat Arun, kami balik lagi naik ferry ke dermaga sebelumnya. Tempat naik turun kapalnya ini jelek ya, jadi susah kalau kaliah harus bawa stroller atau kursi roda. Disini saya sempat membeli coconut ice cream dan gorengan di sepanjang jalan, juga oleh-oleh lainnya. Akhirnya kami kembali lagi ke hotel setelah beberapa jam terperangkap dalam kemacetan jalanan di Bangkok.

Coconut Ice Cream pertama di Bangkok. Menurut saya sih masih enakkan es krim pingir jalan di Jakarta.
Malamnya kami keluar lagi mencari makan dengan naik taksi. Kali ini tujuan kami adalah Soi Polo Fried Chicken, yang menyajikan ayam goreng khas Thailand. Kami menyewa 2 taksi kesana dan sempat kesusahan mencari tempatnya karena agak masuk ke dalam gang/jalanan kecil dan supir taksinya gak tau. Untungnya supir taksi disini cukup mahir berbahasa Inggris dan sudah ada app Waze, sehingga kita gak sampai kesasar banget.

Di Soi Polo Fried Chicken, tentunya kami memesan ayam goreng Thailand, ikan goreng  serta papaya salad (Som Tum) dan masakan olahan daging babi lainnya. Ayam gorengnya enak dan bumbunya benar-benar khas, cocok dimakan bersama nasi hangat. Tempatnya sendiri agak remang-remang alias gelap, jauh dari kesan elit kalau saya bilang. Tapi makanan dan harganya emang cocok di lidah dan di kantong. Sepulang dari sana, kami dianter supir taksi yang gak bisa bahasa Inggris, tapi untungnya kita diturunin persis di depan hotel dengan charge yang jauh lebih murah dibanding saat kita kesini. Kita gak langsung masuk kamar hotel, tapi kita muterin stand-stand baju, aksesoris, oleh-oleh sampai toko obat yang letaknya ada di depan hotel. Kemudian lanjut ke 7 eleven untuk beli camilan lagi hehehe. Cemilan yang saya suka dari sini yaitu susu merek meiji aneka rasa dan onigiri isi ikan.


Hari Ketiga (27 Juni 2017)

Pagi-pagi kami sarapan lagi di hotel dan bersiap-siap sebelum check-out. Setelah menurunkan koper, kami jalan lagi ke Palladium World Shopping melalui akses khusus dari Berkeley Hotel. Saat itu sekitar jam 9.30 pagi sehingga banyak toko yang belum buka. Saya yang ingin membeli keychain untuk oleh-oleh, akhirnya datang ke satu toko dan tanya keychain disana berapa harganya. Karena merasa modelnya kurang bagus, saya langsung meletakan gantungan kunci itu dan bersiap siap untuk pergi. Eh malah ditegur sama penjualnya dibilang pagi-pagi gini belilah, udah nanya harga langsung kabur blablabla. Mama saya yang mau beli sandal pun harus mau gak mau melihat drama bentak-bentakan antara ibu dan anak pemilik toko sandal itu. Jadi sepertinya ada miskom antara ibu dan anak itu, sehingga anaknya mulai marah-marah ke ibunya dan hal itu masih berlanjut setelah kita meninggalkan toko. Karena pengalaman yang kurang menyenangkan ini akhirnya kita mutusin untuk balik lagi ke hotel.

Proses check-out dari hotelnya di luar dugaan, cepat. Oh iya tadi-tadi kan sudah disebutin hal positif dari hotel ini apa saja. Sekarang giliran yang negatifnya. Menurut saya, lift di hotel ini sangat lambat, karena kita stay di lantai 29 jadi kerasa sekali. Selain itu di hotel ini sistemnya agak aneh, dimana saat itu sore setelah kita pulang dari Wat Arun dan mau masuk kamar, kartu aksesnya tidak berfungsi. Ternyata kartunya harus diperpanjang lagi di resepsionis. Kakak dan adik saya mendapat perlakuan yang kurang baik (disuruh tunggu cukup lama) karena staf hotel tidak responsive saat ditanyakan perihal ini. Saat mau naik lift kembali ke atas pun, mereka sempat disuruh pindah lift berkali-kali dengan alasan lift ini bukan ke lantai itu, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. Overall pelayanan staff di hotel Berkeley harusnya ditingkatkan lagi.

Setelah mobil van datang menjemput kami, selanjutnya kami akan ke Pattaya. Perjalanan dari Bangkok ke Pattaya memakan waktu sekitar 3 jam. Sebelum sampai persis di kota Pattaya-nya, kita main dulu di Sriracha Tiger Zoo, kebun binatang yang dikenal memiliki populasi harimau dan buaya paling banyak di dunia. Sebelum masuk ke kebun binatangnya, kita dimampirin dulu ke restoran chinese food dekat sana. Sebenarnya ada beberapa jenis restaurant, diantaranya ada yang buffet juga. Tapi entah kenapa kita malah masuk ke sini, karena yang milih juga kakak saya hehehe. Setelah kita semua duduk, kakak saya cerita dia ditanya sama pelayan restaurantnya, mau “eyu” (bahasa mandarin) atau engga. Kakak saya bilang engga mau, terus pas di meja dia nanya ke kita “eyu” itu apaan karena sepengetahuan dia itu bukan ikan yang biasa. Ternyata “eyu” itu buaya, jadi di restaurant ini emang menyajikan daging buaya.

Yang paling depan yang lumayan rasanya.


Setelah menunggu beberapa lama, makanan kami (makan meja) dikeluarkan satu per satu. Makanannya tampil dengan sederhana dan rasanya juga standar, benar-benar seperti makanan yang disajikan kalau kita ikut tour. Ada satu soup yang mirip sayur lodeh tapi isinya daging dan tomat hijau, itu yang menurut kami rasanya lumayan enak. Yang lainnya seperti tom yum terlalu asam, sementara sayurnya hampir ga ada rasa. Tahu di meja kami hampir gak tersentuh sama sekali.
Setelah beberapa lama kami makan, baru deh ada yang ngeh nanyain itu daging di soup mirip sayur lodeh, daging apaan ya? Karena gak mirip daging ayam. Baru kecurigaan itu muncul satu per satu, dan banyak yang bilang itu daging buaya. Akhirnya ada pelayan yang lewat dan ditanyain kakak saya, itu daging apaan di kuah ini. Buaya ya? Pelayannya ngelirik temennya, lalu sambil tersenyum bilang chicken, chicken, no crocodile. Kita udah pasrah aja karena udah ketelen juga, yang pasti tatapan dan senyuman waitress disana menyimpan sesuatu. Setelah itu, 2 menu terakhir kami dihidangkan juga, telur dadar dan ayam goreng tepung. Begitu 2 menu ini keluar, napsu makan yang sempat hilang muncul lagi, meski harus hilang lagi setelah kita lihat bagian dalam daging ayamnya masih ada darah. Jujur saja makanan disini not recommended, mungkin rasa dan tampilannya disesuaikan dengan tamu-tamu disana yang kebanyakan warga china daratan.

Cerita saat masuk ke kebun binatangnya akan disambung di part selanjutnya 😀😀😀.

Jumat, 26 Mei 2017

Kesal

Cerita ini ditulis saat saya dalam penerbangan pulang dari Singapura.

Perjalanan singkat sebenarnya karena hanya 3 hari 2 malam di sana dengan tujuan untuk menemani ayah saya check-up. Pas akan pulang dari singapore, saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di bandara changi tepatnya di terminal 3. Ceritanya langsung diketik di smartphone beberapa jam sesudah occurence supaya gak lupa detail-detailnya hehehe. Jadi waktu itu pesawat kami (GA) departure-nya jam 17.35 dari Changi. Kita (papa, mama dan saya) sudah tiba di Changi sekitar jam 2 siang. Karena masih lama banget boardingnya & kita juga belum makan siang, saya dan keluarga pun nyari foodcourt dan akhirnya ketemu Dine & Wine di T3. Kita tertarik beli jajanan tusuk-tusukan sejenis Old Chang Kee disana, namanya TIP TOP. FYI, disana gak jual skewers aja tapi juga mie goreng, nasi lemak dan kopi. Jadilah saya yang diminta ngantri buat beli oleh orangtua saya. Antriannya sendiri cukup panjang, di kasirnya ada satu nenek-nenek yang jagain sementara etalase skewersnya ada di sebelah kasir. Kita pesannya harus via kasir. Di depan saya ada sepasang orang Indonesia yang juga beli skewers. Sambil menunggu, saya amati orang yang berbelanja di depan saya ini. Mereka gak sebutin nama skewernya, cuma nunjuk-nunjuk di etalase dan hal itu bikin si nenek-nenek kasir ngomel, bilang mention the name please, mungkin dia takut salah input. Sampai-sampai si pasangan indonesia yang beli ini bilang sorry, sorry. Giliran mereka udah selesai dan bayar, terus mereka mau minta receiptnya, tapi si nenek-nenek itu bilang later later tanpa ngasih alasan yang jelas kenapa tuh receipt ga dikasih. Ya pergilah mereka dan setelah itu giliran saya yang pesan.

Karena saya belum tau mau beli yang mana dan etalase skewernya sendiri di samping kasir, jadi saya ngomongnya sambil pindah-pindah gitu, nengok kasir dan nengok etalasenya ganti-gantian. Payah banget lah, baik di kasir maupun di papan menu ga ada daftar nama skewernya. Pas saya sebutin mau pesen apa (pakai English), kagetlah saya saat si nenek tiba-tiba ngoceh pakai bahasa Mandarin. Meskipun saya gak ngerti banget bahasa mandarin, tapi dulu kan pernah belajar saat SMA jadi masih bisa nangkaplah inti percakapannya. Si nenek itu ngomel yang intinya begini "Sial banget dapet pelanggan ini. Suaranya kecil banget. Laki-laki loh, masa laki-laki suaranya kecil begini." Begitu dia selesai ngoceh, temennya (ibu-ibu, kita sebut B, masih lebih muda dibanding nenek itu, sesama staff juga) bales ngomelin si nenek (in chinese) yang intinya bilang jangan ngomong macem-macem lah tentang pelanggan, belum tentu dia gak ngerti. Baru si nenek ngomong ke saya "Louder please" dan akhirnya si B (ibu-ibu) itu yang mention pesanan saya ke nenek. Parah lah, saya sampai speechless sama pelayan model gitu. Padahal si B yang berdirinya lebih jauh dari saya aja paham dan gak minta saya repeat lagi. Selesai pesan saya langsung bayar tanpa ngomong sepatah kata pun. Saya gak dikasih receipt dari nenek itu, persis seperti pasangan Indonesia sebelumnya.

Asli, begitu saya jalan menjauh dari sana, saya jadi kesel banget dan mikir si nenek itu kok kurang ajar banget, jangan mentang-mentang bisa ngomong lebih dari 1 bahasa, terus bisa jelek-jelekkin orang asing seenaknya aja pakai bahasa lain. Dikira saya gak ngerti kali ya jadi bebas ngomong begitu di depan saya langsung. Saya sadar juga kalau suara saya memang agak kecil, tapi kan bisa diomongi baik-baik kalau misalnya saya harus mengencangkan suara. Harusnya yang namanya pekerja (udah) manula sadar, pendengaran dan penglihatan sudah mulai menurun, jadi daripada ngomel-ngomel gak jelas mending minta baik-baik. Pengin banget saya nulis di tripadvisor atau situs lainnya, ngasih tau kalau pelayanan nenek ini di TIP TOP T3 Changi Airport sangat buruk dan gak layak di bandara Internasional sebesar Changi.

Gak selesai sampai situ aja, setelah saya balik dan ngasih makanan ke orang tua, mereka bilang enak dan minta saya beli lagi. Ya ampun, uda kesel banget sebenarnya sama si nenek itu malah masih disuruh balik lagi kesana. Taste wise, mereka (orang tua saya) makan yang skewernya dan mereka bilang enak sementara saya makan Salted Egg Chicken Curry Puff, dan saya berani bilang Puffnya beneran gak enak.
 
Tip Top T3

Akhirnya secara terpaksa saya balik lagi kesana dan kebetulan yang ngelayani si B. Ternyata pasangan Indonesia sebelumnya balik lagi kesana minta receipt dan si B langsung nanya ke nenek dimana receiptnya. Si nenek bilang gak tau, dia gak ingat tapi akhirnya bisa ditemuin lagi oleh si B receiptnya dan dikasih ke pasangan itu. Begitu pasangan itu pergi, si nenek nanya mereka minta kembalian lagi ya? Terus si B bilang mereka minta receipt bukan kembalian. Asli, ternyata emang bener nih nenek eror. Mungkin uda sering diomelin pelanggan ya makanya jadi ga sopan & bad mannered. Untungnya si B ngelayanin saya dengan baik. Gak minta ngulang ngulang sebutin pesanan, kembalian bener, receiptnya langsung dikasih pula sambil ngomong thank you dan senyum. Kali itu saya juga beli skewer mereka yang namanya Cheese Tofu. Kalau yang ini enak, beneran, jauh lebih enak dibanding puff sebelumnya. Mungkin tadi karena hati sedang kesal jadi makanan yang masuk pun terasa gak enak. Akibat ulah nenek-nenek tukang kasir yang mulutnya gak bisa dijaga itu tuh. Dan akibat saya juga yang bisa menangkap pembicaraan dia.

Kemudian saya punya minuman kalengan tapi gak ada sedotan. Sejak tahu kalau minum langsung dari kaleng itu gak higienis, saya selalu cari sedotan atau gelas buat minum. Pas banget momentumnya, karena jujur saya masih kesal banget sama nenek-nenek itu, saya berencana mau ke TIP TOP lagi dan bilang ke dia jangan pikir saya gak ngerti tadi dia ngomong apaan (mau ngelabrak). Begitu jumpa saya mulai dulu intronya. Saya langsung nanya "Do you have any straws?" ke si nenek. Si nenek langsung nunjukkin strawnya ada di samping counter sambil bilang "Oh straw, over there". Lalu si B (ibu-ibu itu) malah ngambilin sedotannya satu dan dibawakan langsung ke saya yang berdiri di sisi counter lainnya. Saya bilang thank you dan si B tersenyum. Batal marah-marahnya, mungkin bisa dibilang agak luntur karena kebaikkan hati si B. Sepertinya si B juga tau kalau saya ngerti ngomongan si nenek tadi dan dia gak enakkan. Lagipula counter mereka lagi ramai. Saat mau ke boarding gate, saya lihat dari jauh ada pramugari SQ yang pesan makanan, dilayani  lagi sama nenek itu dan si pramugari harus ngulang pesanannya berkali kali. Mungkin memang begitu ya yang namanya nenek-nenek. Kebanyakkan merasa selalu benar dan suka ngomel/ngoceh gak karuan. By the way, nenek yang saya bicarakan ini bukan nenek yang bentuknya gendut, pendek, kacamataan pakai topi gitu ya. Nenek ini kurus, lumayan tinggi, rambutnya putih semua dan potongannya tomboy/laki-laki.

Slot Machine mainan kesukaan keluarga saya di Casino Marina Bay Sands

Pengunjung udah ngantri di depan pintu masuk Heart Centre NUH padahal belum jam buka

Bicara soal perjalanan kemarin, kami bertiga terbang pulang pergi Singapore-Jakarta menggunakan maskapai Garuda Indonesia, dengan total yang harus dibayar (untuk kelas ekonomi) Rp 8 jutaan (berarti satu orang kena Rp 2,6 jutaan). Untuk review maskapainya ya lumayan bagus, tapi menurut saya pramugari di Garuda Indonesia gak begitu ramah dan helpful, mungkin beda kasusnya kalau saya duduk di kelas bisnis. Makanan yang disajikan lumayan enak, papa dan mama juga sepakat bilang makanan utama saat pulang dan pergi rasanya enak. Hanya saja menurut saya, makanan pendamping yang disajikan itu tidak menggugah selera. Selain makanan utama, ada makanan lain seperti buah/salad/acar untuk sayurannya, roti & butter dan wafer/snack bar untuk kudapan. Rotinya keras dan gak enak, kudapannya juga agak “malesin” karena itu (wafer/snack bar) merupakan makanan yang bisa ditemukan dengan mudah di minimarket/swalayan. Menurut saya seharusnya GA bisa lebih baik lagi di sektor makanan yang ditawarkan ke penumpang.

Makanan saat pergi ke Singapore - mie goreng ayamnya enak

Makanan saat pulang ke Jakarta, Nasi dengan Ayam dan terong. Menurut saya ini lebih enak dibanding mie gorengnya

Untuk hotelnya, kita menginap di tempat yang sama seperti sebelumnya, V Hotel Lavender. Letak hotel ini emang strategis banget karena ada di atas stasiun MRT, sehingga biasanya hotel ini ramai dan harganya sendiri cukup reasonable. Fasilitas yang saya suka dari hotel ini adalah free wifi yang lumayan cepet speednya. Kamar tidurnya kita pesan yang family room (3 tempat tidur untuk 3 orang), 2 malam dengan total 4,4 juta (gak termasuk breakfast). Saat pertama kali saya masuk ke kamar, saya lihat ada smartphone tergeletak di atas meja. Setelah diselidiki, ternyata ini terobosan baru dari V Hotel, namanya Handy. Disitu ada tertulis “Stay connected with handy’s unlimited mobile data and telephone calls”. Tapi saya sendiri gak tertarik untuk mencoba lebih jauh. By the way, kamar disini kecil tapi perlengkapannya cukup oke, ada safe deposit box, hair dryer, kulkas, lemari, TV, electric kettle dan televisi.  

Handy by V Hotel Lavender


Di Singapore sendiri aktivitas kita bolak balik rumah sakit NUH  – hotel – casino Marina Bay Sands dan begitu seterusnya sampai pulang. Di hari terakhir baru kita sempetin jalan-jalan bentar ke Bugis, baru lanjut ke Marina Bay Sands lagi dan kemudian ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Disana saya juga sempat cobain beberapa restauran junkfood seperti McDonalds, Burger King dan Old Chang Kee pastinya (ini kayaknya bukan junkfood). Ternyata McSpicy di McD Singapore rasanya sama aja seperti di Indonesia, hanya saja ukuran daging mereka lebih besar dan lebih mahal tentunya (sekitar $5.25 ala carte). Untuk Burger King, saya pesan paket promo seharga $5 berisi burger, kentang dan minum. Burgernya kecil, seukuran dengan burger Burger King di Indonesia dan rasanya biasa banget. Kentang gorengnya agak beda karena dilumuri cheese sauce dan ini menurut saya yummy. Kalau Old Chang Kee seperti biasa kesukaan saya yaitu tusukkan yang ada cheese di dalemnya. Biasanya mereka ada promo beli 4 tusuk mulai jam 2-5 pm cuma bayar $5. Lumayan hemat lah kalau kalian mau beli banyak tusuk. Terakhir, di Bugis saya juga sempat cobain Fried Carrot Cake ($2.5) di Albert Center. Menurut saya carrot cake mereka ini enak banget dan telur gorengnya juga banyak. Selesai sudah perjalanan singkat kami ke Singapore. 

McSpicy yang rasanya enak dan dagingnya besar

Kentang dengan saus keju dari Burger King, Kejunya agak manis-manis gitu

Fried Carrot Cake. Seharusnya hitam semua tapi penjualnya nambahin yang putih, buat sample kata dia. Kalau saya ngelihatnya dia masak yang hitam kedikitan makanya dia tambahin lagi yang putih (original)

Kelenteng di Bugis



Selama nunggu di bandara saya juga sempatin jalan-jalan liatin fasilitas apa aja yang ada di Changi. Ternyata emang banyak yang free dan terawat baik fasilitasnya.



Free Movie

Buat tidur-tiduran melepas lelah

Ada tempat charge dan colokkan USB

Buat yang mau refund GST dalam bentuk uang tunai/cash

Waiting Lounge

Mesin pijat yang biasanya jadi rebutan pengunjung

Drinking Water di boarding room




Oleh-oleh wajib dari Changi Terminal 2, harganya $4.7 untuk ukuran small Chicago Mix

Jumat, 21 April 2017

19 April

Kemarin tanggal 19 April 2017 merupakan hari yang amat penting buat seluruh warga DKI Jakarta, karena pada tanggal tersebut akan dilaksanakan Pilkada untuk memilih pemimpin (Gubernur) Jakarta 5 tahun ke depan. Pemimpin ya, bukan pelayan :). Karena saya sudah menjadi warga DKI Jakarta sejak setahun lalu, makanya pada kesempatan ini saya juga berhak ikut menyumbangkan suara di Pilkada. Pilkada bulan Februari lalu saya juga ikut dan saat itu masih agak kacau karena banyak yang belum bisa nyoblos karena datang tanpa membawa form yang biasanya diperoleh dari RT setempat mungkin sosialisasinya kurang baik.  Puji Tuhan, Pilkada kemarin sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Meskipun pilihan saya pribadi gak menang dan saya agak kaget dengan selisih suaranya yang ternyata cukup jauh, tapi Ahok sendiri sepertinya gak terlalu ambil pusing. Semuanya terjadi karena kuasa Tuhan, itu yang dia ucapkan saat konferensi pers sesudah hasil Quick Count beberapa lembaga survey ditetapkan. Kekalahan Ahok sendiri sebenarnya bukan hal aneh lagi, mengingat sejak hasil Quick Count Pilkada pertama pun banyak yang memprediksi pendukung paslon 1 akan pindah mendukung paslon 3. Selain itu, ada juga yang mengatakan kekalahan telak Ahok (beda suara dengan Anies > 15%) karena blunder anggota partai pendukungnya yang tertangkap basah membagikan sembako saat masa tenang. Entah benar atau tidak, respons pendukung paslon 2 atas kekalahan Ahok cukup unik ya. Ada yang ingin pindah warga negara, meninggalkan Jakarta, dan lain sebagainya karena gubernur yang mereka rasa pantas memimpin Jakarta kalah di Pilkada. Menurut saya pribadi, selama masih ada Jokowi (kubu Ahok) semuanya akan tetap baik dan aman-aman saja. Jadi gak usah lebay sampai pengin pindah warga negara. Yang paling penting jangan sampai proyek MRT atau transportasi massal lainnya mangkrak/berhenti di era kepemimpinan baru nanti. Malu kali sama Singapore udah punya MRT dari tahun 1980an sementara kita udah hampir 2020 MRTnya belum kelihatan sama sekali :(.

Setelah nyoblos di TPS dekat rumah, keluarga saya memutuskan untuk ke mall di hari libur ini. Gak jauh-jauh dari rumah, kita pilih main ke Lippo Puri Mall. Tujuan ke mall ini selain untuk lunch bareng keluarga, Mama saya yang HP-nya udah butut mau beli satu yang baru lagi. Sesampainya di mall, ternyata ada beberapa toko yang belum buka, baru siang bukanya karena masih ada yang nyoblos. Kita lanjut ke Erafone dan lihat-lihat HP disana. FYI, HP Mama saya itu Samsung Galaxy Mega 2 yang dirilis 2 atau 3 tahun lalu. Saat perilisan, HP ini emang keren karena ukuran layarnya besar (6 inch) dan RAM 1,5 GB. Tapi sekarang sudah lemot dan gak pernah dapat update OS terbaru lagi. Karena kebutuhan komunikasi menggunakan HP itu cukup intens, jadinya Mama saya memutuskan untuk ganti HP baru yang lebih update dan spesifikasinya lebih baik.

Di Erafone sendiri ada banyak HP yang dipajang di sana. Tapi kita tetap milih Samsung semua menolak oppo dan vivo  karena ada jaminan kualitasnya dan service center yang baik meskipun harganya sebagian besar gak murah. Saya sendiri awalnya mengusulkan seri A 2017 ke Mama karena harganya gak terlalu mahal (5-6 jutaan) dan fiturnya lumayan bagus, ada waterproof juga. Tapi yang lainnya malah lebih tertarik ke Samsung Galaxy A9 Pro (sekitar 6 jutaan) karena ada diskon lumayan besar dan fiturnya lebih baik dibandingkan seri A 2017. Meski begitu, akhirnya kita sepakat untuk mengusulkan Samsung Galaxy C9 Pro karena smartphone satu ini belum begitu lama dirilis, dengan RAM 6 GB dan kamera depan-belakang 16 MP. Baru kali ini saya menemukan HP dengan RAM 6 GB, yang mana seharusnya gak ada masalah untuk multitasking. Kita gak langsung beli di Erafone tetapi lanjut ke Samsung Experience Store untuk compare harga. Ternyata harganya sama-sama Rp 7 juta dan dapat kartu memori MicroSD 16 GB. Akhirnya Mama saya beli satu dengan warna Rose Gold. Begitu pulang langsung saya test kameranya untuk mengambil gambar beberapa obyek di sekitar luar rumah. Lumayan bagus lah hasil fotonya karena pencahayaannya juga melimpah.

Klik saja kalau mau lihat yang lebih jelas, Kalau dizoom, tulisan di dekat roda motornya masih bisa terbaca jelas

Hasil fotonya lumayan bagus ya

Setelah beli HP, kita lanjut makan siang di Duck King. Ngantri mau masuk ke dalamnya panjang banget, waiting list-nya juga gak kira-kira karena ini hari libur. Karena kita keluarga besar (12 orang) jadi agak lama nunggu meja kosongnya. Baru sekitar 1 jam kemudian, kita uda bisa masuk dan memesan makanan disana.

Roasted Duck

Bakpao Telor Asin

Ikan Malas yang digoreng tepung dan dimasak asam manis. IMHO, ini rasanya standar banget






Selain makanan di atas, masih ada beberapa makanan yang gak sempat diambil fotonya seperti udang mayonaise, pangsit goreng mayonaise, tofu with seaweed + mushroom dsb. Yah namanya juga makan bareng keluarga dan dibayarin, jadi gak enak kalau misalnya saya ngambil foto lama-lama demi angle yang bagus sementara yang lain udah kelaparan. Saya pribadi paling suka semua yang ada mayonaise-nya dan bakpau telor asin hahaha. So far, makanan di Duck King enak-enak & emang cocok jadi tempat untuk lunch/dinner keluarga besar. Satu lagi, foto-foto makanan di atas diambilnya bukan pakai Samsung Galaxy C9 Pro ya, tapi iPhone 6s sehingga hasil fotonya kurang oke dan gelap. Meskipun saya suka mengambil foto makanan, tetap saja gak kepikir untuk beli kamera canggih untuk jepret-jepret karena kamera smartphone aja sudah cukup.

Other Posts